Sabtu, 26 November 2011

Aku hanya ingin bersama kekasihku

Gelap. keremangan yang berselimut di dalam matanya seolah hendak menyadari sesuatu. Fara membuka matanya dan menemukan ia sudah ada di dalam kamarnya. Ia bersikeras untuk percaya, bahwa lima belas menit yang lalu ia sangat yakin bahwa ia masih berada di pinggir pantai Kuta bersama Abram. lima belas menit yang lalu ia masih bermain layangan bersama lelaki itu.
"Sumpah demi Tuhan" katanya pada diri sendiri. "bagaimana mungkin aku bisa ada disini?"
ia melihat bufet disamping tempat tidurnya, ada sepotong roti gandum dan segelas susu yang sudah tak lagi hangat. kedua tangannya memegangi perutnya yang tepat sekali sedang kelaparan, lalu iapun meneguk susu itu sampai hampir setengah, merebut roti itu dan memakannya dengan sangat lahap. "Alhamdulilah..." ucapnya dalam hati. kini ia tak lagi kelaparan dan dengan tenaga yang sudah kembali pulih, Fara melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Di ruang tamu yang jaraknya beberapa meter dari kamarnya, ibunya sedang sibuk melayani dua orang tamu yang rasanya tak asing lagi di ingatannya. kedua gadis tersebut memakai almamater kampus. Duduk sopan sambil bercerita dengan pembahasan serius.
"Sungguh, kami sangat ingin membantu Fara, bu." Ujar Sisil mengatakan. Ibu Fara langsung menunduk seperti orang pasrah. "semua pasti akan kembali seperti dulu."
"Bagaimana caranya,nak? ibu sendiri benar-benar sudah tidak tahu cara apa yang harus dilakukan untuk membuat Fara menerima semua ini."
Lalu Jihan ikut menanggapi, "kita semua hampir tidak percaya ini semua terjadi. Peristiwa itu ternyata juga memberikan efek yang sangat ironis."
Dibalik kejauhan sana, Fara mendengar suara isakan tangis ibunya seperti tak berarti apa-apa. Ia lebih memilih untuk pergi keluar dari rumah dan mencari suatu ketenangan serta kepuasan batin.

Abram sudah berjanji padanya untuk menemuinya ditaman, dimana dianataranya ada sebuah kolam ikan indah dengan suara gmercika air pancur yang semuanya dapat menginspirasi pikirannya. Meng-antisipasi kerinduannya pada kekasih yang sangat dicintai, Fara hanya ingin bertemu dengan Abram. agar ia bisa bercerita bersama, tertawa bersama dan merasakan kehadiran cinta yang sangat mendalam antara kedua jiwa yang serasa lazim.
Fara menjatuhkan diri, duduk dipinggir kolam yang warnanya tak lagi sebening sebelumnya. Ia harus mengambil kesempatan ini, dipandanginya sekeliling taman, tak ada orang lain yang berada disitu kecuali ia dan lelaki itu. Abram, yang dengan tampannya berjalan kearahnya. Farapun tersenyum, melihat penampilan Abram kali ini yang begitu menawan dan tentunya dengan aroma tubuh Abram yang tak terlupakan. Dan lelaki itupun duduk disebelahnya, dengan senyum sambutan yang menghibur hati.
"Aku senang kamu sudah ada disini," Sapa Abram pada Fara.
"Maafin aku soal kejadian tadi, aku gak bermaksud meninggalkan kamu di pantai." Sambil merapikan rambut Fara yang berantakan, Abram lagi-lagi tersenyum.
"Tidak apa-apa, aku cuma kasihan sama kamu."
"Kenapa?"tanya Fara sedikit tak suka. Apa yang harus dikasihani? katanya dlm hati.
"Sayang, kamu itu sangat cantik, dan kamu punya masa depan yang sangat cerah tapi kenapa kamu tidak mau menuruti kata-kata ibumu?"
Fara langsung memasang muka masam, nafasnya meng-endus kuat sebagai ungkapan kekesalan."Mama tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. aku hanya ingin bersama kamu, tapi kenapa ia melarangku."
"Aku tahu kamu sangat mencintaiku, Fara. Tapi kamu harus bisa terima bahwa ini semua tidak seperti yang kamu inginkan."
"Abram!" Fara melihat kedua mata Abram sedikit samar, namun tatapannya sanggup mengunci ketekunan yang telah terkunci di dalam hatinya selama ini. "jangan dengarkan kata orang, mereka hanya ingin memisahkan kita. Kita sudah bersumpah kan? bahwa kita tidak akan pernah berpisah walau apapun yang terjadi. bahkan maut sekalipun!!"
Abram sedikit terkejut mendengar pernytaan Fara barusan, ia tak punya cara apa-apa lagi untuk bisa meyakinkan kekasih yang dalam kenyataan pernah ia cintai, bahkan mungkin hingga saat ini.
"Aku mengerti." direngkuhnya Fara kedalam pelukannya, memberikan kedamaian agar gadis itu tidak lagi bersedih. "kamu ingin aku terus ada bersamamu?"
"Sangat! aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sayang."
kemudian Abram melepas pelukannya, menatap wajah Fara yang terlihat sedikit pucat dan berantakan. "baiklah," katanya."sekarang... apa kamu mau menemaniku bermain layang-layang lagi?"
"Tentu!!" Fara mengangguk kuat tanda setuju. Ia melihat Abram telah menyediakan sebuah layangan bercorak warna-warni di tangannya, dengan seuntas benang yang panjang dan kuat Fara dan Abram berhasil menerbangkan layangan itu dengan sangat tinggi. tak ada pepohonan yang menghalangi layangan itu untuk terbang bebas. merekapun tertawa, berlarian dan saling memanjakan diri dengan kebahagiaan yang diarasakan sangat nyata. Fara senang setiap kali Abram menggenggam jemarinya dan membawanya berlari berasam dengan angin. Bersama daun berguguran yang terhembus angin, burung-burung merpati yang seolah berkicau merdu melihat kebahagiaan yang ia rasakan.
Fara tak ingin genggaman itu terlepas, tapi entah kenapa tangan itu berubah menjadi lebih hangat. tak sedingin dan selembut sebelumnya. Disitu, dihadapannya tiba-tiba saja ibunya berdiri dengan air mata. Memegangi bahunya dengan sangat kuat dengan bantuan kedua temannya yang masih mengenakan almamater, mereka yang seharusnya masih duduk di ruang tamu rumah. Bagaimana mereka bisa menemukanya di tempat ini? katanya dalam hati. Kenapa tiba-tiba ada banyak sekali orang disekitarku, dan kenapa mereka menatapku seolah ingin menerkamku, aku ini salah apa?
"Aku sedang bersama Abram dan bermain layang-layang, kenapa kalian datang dan mengganggu kebahagiaanku?" pintanya pada orang-orang itu.
ia ingin memberontak, lari ke pelukan Abram dan pergi dari mereka. Namun, kekuatan orang-orang itu membuatnya tak sanggup berbuat apa-apa selain berteriak sekuat tenaga agar mereka pergi. berteriak sekuat tenaga agar mereka tahu betapa menyedihkannya ia saat air mata mengucur deras, berteriak sekuat tenaga agar ibunya rela melepaskan tangannya yang lemah. tapi kekuatan mereka semakin dan semakin kuat menahannya.
"Maafin mama, Fara. Mama terpaksa melakukan hal seperti ini." ibunyapun menangis.
"Fara cuma mau Abram, ma... kumohon jangan memisahkan kami. Fara mohonnn..."
"Ini yang terbaik buat kamu nak." Fara tak menahu, ada benda tajam yang menusuk lengannya dan seketika semuanya menjadi gelap, "mama sangat menyayangimu, Fara."


"Dimana Abram?! mana layangan cantik itu seharusnya aku ada ditaman, bukan di kamar bau seperti ini!" Begitu ia terbangun, Fara mendapati dirinya berada di tempat asing. tempat tidur ber-sprei putih, kamar yang tak ber-lemari dan tak berjendela. di balik dinding kamar rumah sakit jiwa, ibunya menangis tak rela. Ia tak ingin meninggalkan Fara dalam keadaan seperti itu, namun ini adalah keputusan terberat yang pernah dibuatnya. sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Abram dua bulan yang lalu, Fara menjadi sangat depresi hingga menyebabkan gangguan jiwa. Ibunya sadar jika ia sangatlah kejam, bagaimana anak yang sangat disayanginya harus berada di tempat menyedihkan seperti ini, berperilaku dengan tingkah yang berhalusinasi tinggi, merasa yakin bahwa Abram kekasihnya selalu ada didekatnya.
"sampai kapan kamu seperti ini, nak. cepatlah sembuh agar mama bisa melihatmu ceria kembali."
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

thank's for your comment