Selasa, 25 Agustus 2009

Sopir BuAh Pir

Hiruk pikuk suara memenuhi tempat parkiran pelataran kampus. Masih tetap terdengar sedikit bising meskipun jendela mobil aku tutup rapat-rapat. Tapi jendela belakang tidak ku tutup, agar angin bisa masuk dari sana. Sehingga aku tidak perlu menyalakan AC mobil yang membuatku terkadang bisa sesak nafas. Aku tidak suka menghidupkan AC mobil jika bukan karena permintaan bos.
Biasanya aku menunggu diluar sambil cuci mata melihat gadis-gadis kampus berkeliaran kesana-kemari, tapi kuurungkan niatku untuk nongol keluar dari mobil karena panasnya terik matahari yang membuat setiap mata terpicing dengan sinarnya. Belum lagi panasnya yang hampir membakar kulit. Sudah pasti aku tidak mau kulit putih bersihku ini menjadi hitam Cuma gara-gara secuil sinar UV. Labih baik aku tidur didalam mobil sambil mendengarkan iPod.
Bibirku komat-kamit mengikuti alunan musik yang kusetel kuat-kuat. Kepalaku mengangguk-angguk dan tanganku ikut menari mengepak-ngepak paha karena dentuman musik gun’s N roses hampir membuatku melonjak-lonjak. Dengan begini aku tidak lagi mendengar suara-suara bising dari luar sana. Aku anggap ini sebagai terapi untuk menghilangkan kebosanan.
“Mas Danu! Mas! Ih… dipanggilin gak denger-denger. Mas!!” Seseorang memukul pundakku dari belakang. Aku tersentak kaget dan langsung terperanjat bangun begitu melihat mbak Ros sudah duduk dibelakang mobil sambil tertawa melihat ekspresi wajahku yang terkejut. Akupun ikut tersenyum malu.
“Ya ampun… mbak Ros! Ngagetin aja.” Ujarku seraya mengelus-elus dada.
“Makanya kalau pakai iPod itu jangan kencang-kencang. Belajar jadi pekak ya?”
“Ya… dari pada bosan, mbak.” Jawabku ngeles. “Langsung pulang nih?”
“Biasalah, mas… stok udah habis nih. Tinggal satu ditangan.” Aku mengerti apa maksud gadis yang umurnya 3 bulan lebih muda dariku ini. Kemana lagi tujuannya kalau tidak ke toko buah. Itu adalah tempat yang rutin 2 hari sekali harus dikunjungi. Menyempatkan diri untuk membeli buah pir belahan hatinya.
Setiap saat dan dimanapun ia berada, buah pir tak pernah lepas dari genggamannya. Bahkan disaat dia sedang bekerja atau beraktivitaspun ia menyempatkan diri untuk menggrogoti buah pir. Aku tidak heran lagi. Karena itu sudah menjadi makanan favoritnya sejak ia masih SMA dulu. Gadis cantik ini seperti sudah kecanduan.
Bahkan ia rela menggantikan nasi dengan buah pir sebagai makanan pokoknya. Tak heran jika ia memiliki kulit yang bersih dan fresh Cuma dengan mengkonsumsi satu kilo buah pir setiap harinya, terkadang lebih malah.
Aku melajukan mobil CR-V Gress yang sering disebut oleh mbak Ros si “mutiara putih”. Itu adalah julukan untuk mobil kesayangannya meskipun ia tidak bisa mengendarainya sendiri.
Aku melihat mbak Ros dari kaca spion. Ia sedang mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan dengan cepat menyalakannya. Tanpa segan aku bertanya.
“Nulisnya masih nyambung, mbak?” Dan mbak Ros dengan ramah tersenyum.
“Iya nih… deadline tiga hari lagi. Kalau tidak segera diselesaikan bisa gawat.” Jawabnya. Aku menggelengkan kepala tanda salut.
Salut dengan perjuangan mbak Ros yang tak menyerah untuk terus menyelesaikan naskah skenarionya. Kalau saja laptop pertamanya yang berisi file-file skenario yang hendak selesai tidak nyebur disumur kamar mandi rumahku, pasti ia tidak perlu capek-capek bekerja keras diburu waktu seperti itu.
Waktu itu mbak Ros main-main kerumah, alasannya dia ingin cari suasana yang hening dan sejuk. Dan suasana seperti itu hanya bisa didapatkan dirumahku. Itu memang bukan yang pertama kalinya ia datang kerumah. Sangking sayangnya ia pada laptopnya yang berharga, ia sampai membawanya kekamar mandi.
Aku sudah berpesan padanya untuk tidak melihat kebawah sumur. Karena aku tahu ia pasti takut melihat kedalaman. Mungkin jika ia melihat kebawah sumurku yang dalamnya 11 meter ia bisa pingsan atau menjerit. Dan ternyata dugaanku benar. Ia menjerit histeris begitu melongokkan kepalanya kesumur kamar mandi.
Aku langsung berlari kekamar mandi. Takut terjadi apa-apa padanya. Dan dengan wajah seperti orang bodoh, mbak Ros menatapku dengan wajah polos seperti tidak terjadi apa-apa.
“Kok laptopnya jatuh?” Mbak Ros malah bertanya. Seharusnya aku yang tanya begitu. Bukanya dia menangis, cemas atau apa ini malah tertawa cekikikan menganggap itu adalah hal lucu. Aku benar-benar tak mengerti. Aku jadi ketularan linglung.
Berkali-kali aku meminta maaf karena merasa bersalah sudah membawanya kerumah yang membawa kesialan baginya. Tapi ia tidak menyalahkanku, karena itu adalah salahnya sendiri yang tidak mengikuti kata-kataku. Aku sama sekali tidak menemukan raut kesedihan diwajahnya, ia malah tertawa mengingat kebodohannya sendiri. Dan sebagai tebusannya, ia harus mengulang 212 halaman skenario untuk sebuah film televisi.
Kembali aku mngintipnya lewat kaca spion. Lagi-lagi buah pir. Mungkin itu yang mbak Ros bilang buah pir satu-satunya yang tertinggal.
Ia melemparkan buah pirnya keatas. Kemudian, hap!! Ia tangkap kembali. Lalu ia gigit hingga membuat pipinya gembung karena banyaknya buah pir yang ia kunyah didalam mulut. Aku melihat, mbak Ros seperti menemukan ilhamnya kembali. Wajahnya amat berseri, dan semangatnya untuk menulis seolah hidup begitu saja.
Aku kembali bertanya. “Apa mbak bisa konsentrasi kalau diburu waktu seperti itu?”
“Asalkan ada jimat ini, semuanya pasti beres.” Jawabnya sambil menunjukan buah pir itu kearahku. “Dalam hidup itu, kita harus punya sesuatu untuk bisa membuat kita tetap bersemangat dalam melakukan berbagai hal. Sesuatu itu bisa benda, makanan, atau orang yang kita sukai. Seolah kita jadikan dia sebagai motivasi untuk membangun diri kita sendiri.”
Inilah kata-kata yang kutunggu keluar dari bibirnya. Mbak Ros yang biasa tingkahnya kekanak-kanakan kini berbicara seperti orang dewasa yang sudah punya banyak pengalaman. Ia kembali menasihatiku.
“Itu makanya, mas… kalau kerja harus punya sesuatu yang kamu idolakan, supaya kamu gak bosan. Punya tidak?”
“Ada sih… tapi udah lupa.” Jawabku singkat karena tidak tahu ingin berkata apa. Mbak Ros menggelengkan kepalanya kemudian kembali mengetik dan menggigit buah pirnya yang tinggal sedikit. “Tapi apa tidak capek, mbak kalau kerjanya diporsir terus?”
“Namanya juga sudah tanggung jawab, jadi harus benar-benar diselesaikan. Walaupun kita rugi di materi, moril ataupun fisik, yang namanya tanggung jawab harus kita tuntaskan. Kita tidak boleh kerja setengah-setengah, karena hasil yang kita dapatkan pasti akan setengah juga.” Dia menggigit buah pirnya kembali.
“Jadi kalau mau hasil yang maksimal, ya… harus bekerja maksimal juga.”
Aku tersenyum salut. Setiap pertanyaan yang kuajukan selalu ia jawab dengan bijaksana. Dia memang bukan wanita yang bisa diremehkan. Kata-katanya memang terbukti selama ini, meskipun ia tersandung penghalang yang bisa meruntuhkan keinginanya, ia tetap terus bertahan menatap kedepan. Meneruskan perjuangannya atas kerja keras yang selama ini ia bangun.
Aku kagum pada kepiawaianya. Aku boleh kagumkan? Asal jangan sampai jatuh cinta.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

thank's for your comment