Saat itu, aku tertegun, memandangmu, wajah mempesona yang sendu. Kau duduk di kursi memandang ke luar jendela, seakan ingin melemparkan hasrat hidupmu di sana. Berteman dengan kebebasan burung-burung atau angin yang berhembus kemana saja. Wajahmu putih nampak pucat –aku ingin membasuh mukamu dengan air hangat dan handuk tebal yang empuk- dan bibir tipis yang selalu mengatup beku. Sejumlah anak rambut jatuh terjuntai di tepi pipi dan telinga. Rambut lurus hitam yang rebah lelap di bahumu.
Semburat matahari hanya tipis menerobos lebatnya daun mangga sehingga tak cukup membuat rumahmu meninggalkan kemuramannya. Cat tembok di sana-sini sudah mengelupas. Rumah kuno yang tinggi ini terlalu kusam dibanding dengan rumah-rumah sepanjang jalan besar. Padahal posisi rumahmu sangat strategis, berada di tengah kota, di depan sekolah swasta terkenal, dan di depannya ada jalan besar dua arah tempat berseliweran kendaraan.
Halamanmu tanah yang berdebu, dan luas tanpa ada tanaman apapun –kecuali Pohon Mangga besar yang menjulang menembus kabel-kabel listrik. Beranda sudah rusak di sana-sini dengan adonan semen dan pasir yang rontok. Pernah aku numpang di kamar mandi belakang dan sepanjang yang kulihat adalah tembok yang kerontang dan rapuh. Bilangan kayunya sudah mulai gapuk. Nampaknya rumah ini perlu segera direhab. Sedang ruang depan amat kering nyaris tanpa hiasan dinding dan ornamen lain. Melompong putih. Tanpa plafon, genting-genting tampak kusam.
Aku langsung diseret oleh perasaan suka sekaligus simpati saat pertama memandangmu. Kau membisu, entah sejak kapan. Sesaat memandang wajahmu dengan sorot mata sembilu itu aku langsung jatuh hati. Niatku mengunjungi temanku yang juga kakakmu, kini berubah menjadi hasrat untuk menemanimu.
Dan selalu kulihat kau duduk di kursi itu. Memandang keluar jendela. Diam. Tanpa gerakan sekecil apapun, kecuali kelopak matamu yang mengatup pelan lalu membuka lagi. Aku sebenarnya ingin sekali berbincang denganmu tapi sikap bekumu yang seperti telah bertahun-tahun itu menjadi daya tolak yang menjengkangku. Aku dengan perasaan malu-malu dan dengan cara halus menanyakan perihalmu pada kakakmu.
"Adikmu sakit?" aku berkata seolah melepaskan beban yang amat berat.
"Iya." jawab kakakmu dengan wajah laksana tertusuk ribuan jarum yang membuatku merasa bersalah.
"Maaf…" kataku pelan.
"Tak apa, sudah lama. Diam tak mau bicara…" Temanku seperti dilemparkan ke masa lalu yang sedih dan gelap. Suasana menjadi beku dan tak mengenakkan.
***
Kembali aku berkunjung karena wajahmu yang selalu terbayang dan posisi dudukmu yang berjibaku dengan kursi kusam membuatku jatuh hati.
Kakakmu menemui dengan sikapnya yang renyai. Setelah berbasa-basi, aku bertanya.
"Adikmu sakit apa?" Sudah begitu lama pertanyaan itu mengeram di dada. Sejak kali pertama melihatmu, namun aku tak sampai hati mengucapkannya dan kini setelah melalui pertimbangan yang amat lama, pertanyaan itu berhasil aku ucapkan, walau batinku tetap gamang.
"Entahlah…" jawab temanku dengan lenguhan napas yang berat dan panjang.
"Sudah diobati ke mana-mana. Ke paranormal juga," tambah temanku seolah dengan mendengar penjelasannya itu aku merasa lebih baik.
Lalu aku mulai rajin mengunjungi temanku untuk mencuri pandang padamu.
Hingga aku harus pergi jauh ke luar propinsi untuk kuliah di Jogja. Tak ada yang bisa aku lakukan, selain s menyuratimu. Menciptakan kata-kata ajaib yang kuharap bisa meringankan hatimu.
Aku tak tahu sudah berapa kali menyuratimu –tentu lewat tujuh kali. Mengutip karya Khalil Gibran, syair Iwan Fals, atau puisi Rendra. Kadang di suratku aku mendongeng tentang berbagai cerita rakyat atau menjiplak sebagian tulisan di buku-buku dongeng luar negeri. Kuharap dengan itu bisa membuat hatimu riang dan tersenyum.
Lalu suatu saat aku bisa pulang dengan hasrat menengokmu.
Masih dengan rumah kuno dengan tembok tinggi dan besar yang kusam. Halaman tanah yang luas dan kering berdebu. Tak ada tanaman apapun kecuali pohon mangga yang terlalu besar itu.
Bibir yang masih mengatup dan beku. Kulitmu yang putih susu memucat dan leher menguning menyangga kepalamu yang diam. Matamu bulat dengan pandangan menerawang, alis tebal yang berjajar erat. Secara keseluruhan kau makin pucat walau tetap memesona.
Hingga aku mendapat cerita yang menguak perihalmu. Bermula dari rebutan lahan warisan --tanah memang seperti pusaka dan tanda harkat kepemilikan. Kakekmu bersilang sengketa dengan saudara tiri dan pertikaian tak hanya fisik tapi juga dunia gaib. Tiba-tiba saudara tiri itu mati mengenaskan, dan kabar menyebar: kakekmu berhasil mengguna-guna dan tebusannya adalah salah seorang keturunannya bakal sakit pikiran. Begitulah cerita itu.
Kau yang sama sekali tak bersalah menerima akibat senestapa ini. Cerita yang makin mengukuhkan perasaanku padamu.
Selalu aku membayangkan membelikanmu kursi roda untuk mengganti kursi kusam yang selalu menemanimu. Lalu mengajakmu berjalan-jalan menghirup udara luar yang segar. Merasakan kulit kita dibakar matahari, menuju taman di sekolah depan, mencoba menangkap kupu-kupu atau kecapung, dan melihat angkasa dengan layang-layang, burung-burung, dan mega-mega.
Aku yakin kau tak tahu jika matahari mulai tenggelam, di gedung pojok perempatan sana melalui jendela akan keluar berbondong-bondong ribuan kelelawar terbang mengoyak langit yang temaram. Aku yakin pula jika melihat kelelawar-kelelawar itu kau akan takjub dan kuharap hatimu menjadi terbuka.
Aku amat senang jika melihatmu tersenyum.
***
Aku berusaha terus merobohkan rasa malu terhadap kakakmu dan keluargamu agar selalu bisa disampingmu. Bapakmu serupa makhluk sunyi yang dingin dan beku. Untung pribadi hangat yang menjadi seperti teman buatku. Ia paling pertama tahu soal hasratku yang selalu berbinar menatapmu. Kukira ia tahu perasaanku. Dan alangkah mengertinya dia yang segera mengajakku terlibat untuk dekat denganmu.
Menatap parasmu yang jelita, jantungku berdegup lebih keras. Kau teramat cantik dalam 'kediaman' seperti ini.
Aku selalu merindukan matamu agar lebih sering berkedip. Aku takut dengan terlalu lama menerawang bisa membuat matamu jadi sakit. Aku akan bersorak gembira jika kau mau tersenyum; itulah kebahagiaan terbesarku.
Sayang waktuku dibatasi jadwal kuliah. Aku harus kembali dan mengambil cuti agar bisa lebih lama membersamaimu. Lalu aku kembali ke Jogja untuk mengurusnya. Ketika pulang aku melihatmu begitu lemahnya.
Bersama kakakmu aku segera menebas beberapa dahan mangga agar matahari lebih leluasa menyinari kamarmu. Sinarnya akan membuat rumahmu menjadi lebih terang dan hangat. Juga membenahi beberapa tempat yang temboknya rontok dan mengecatnya. Menanam sejumlah tanaman hias di halaman dan memasang beberapa hiasan dinding di kamarmu. Aku berharap suasana kemuraman di seluruh rumahmu berganti menjadi kenyamanan dan rasa tentram.
Kembali aku berusaha selalu di sampingmu. Berdendang, bercanda, mendongeng, dan kulihat kau kembali bersemangat. Lalu mulutmu mau membuka lagi dan suap demi suap makanan dan minuman masuk dan membuat tubuhmu tak terlalu pucat lagi. Melihat kursi kusam itu aku segera membelikanmu kursi roda.
Setiap sore aku menjengukmu. Bersama ibumu memindahkan dudukmu di kursi roda. Setelah bertahun-tahun akhirnya kau bisa keluar rumah. Awalnya kau nampak takut dengan udara luar yang lebih kering dan kencang, juga sinar matahari yang menggigit. Tapi lama-kelamaan kau lebih berani dan kita bisa berjalan-jalan lebih jauh.
Biasanya wajahmu nampak menegang ketika merasa takut, dan genggamanmu lebih erat pada lengan kursi. Akupun segera berhenti untuk duduk sejajar denganmu dan memberikan rasa tentram melalui sentuhan tanganku di lenganmu. Membiarkanmu sejenak mengatasi rasa cemas.
Lalu ketika ada sepasang kupu-kupu yang berkitaran diantara bunga-bunga, matamu mengerjap dan menyorot kuat. Aku mendorong kursimu agar mendekat, sayang kupu-kupu itu keburu terbang. Aku gembira melihat matamu lebih hidup dan tak sayu lagi.
Hingga perjalanan kita makin jauh sampai menyusuri jalur lambat tepi trotoar. Menikmati teduhnya pohon-pohon rindang dan lalu-lalang kendaraan. Sampai kuingin kita berhenti di sini, berhadapan dengan gedung tua yang menjulang itu, menunggu datangnya kelam dan ribuan kelelawar berbondong-bondong keluar.
Saat saat aku merasa bahagia karena membawamu. Menikmati udara sore yang mulai dingin, dengan matahari yang bulat merah sebesar tampah, dan mendung tipis bergelayutan. Kelam mulai turun. Oh! akhirnya muncul ribuan kelelawar keluar dari jendela gedung. Kau nampak terkejut lalu matamu bersinar demikian kuat, urat-urat pipi dan wajahmu lebih kencang, matamu seperti takjub, lalu kau tersenyum!
Aku sangat bahagia. Inilah peristiwa yang kutunggu-tunggu, melihatmu tersenyum! Senyum yang membuatmu makin jelita.
Seumurku baru sekali ini aku merasakan kebahagiaan yang begitu mengguncang. Aair mataku menetes, dadaku membumbung melihatmu tersenyum untuk kedua kali. Lebih lebar! Menampakkan gigi-gigimu bagian depan. Kelelawar-kelelawar itu terus dan terus saja berbondong-bondong keluar dan terbang menjaring udara. Sayapnya kembang-kempis memompa udara menyeberang angkasa.
Kelelawar-kelelawar terus berbondong-bondong dan langit makin kelam.
Gelap menerjang dan kita terpaksa kembali, pulang dengan hati bahagia.
***
Kau terlihat lebih segar dan mulutmu membuka lebih lebar.
"Ia lebih suka 'nak suapi..!" kata ibu, "mulutnya lebih lebar daripada aku yang menyuapi," tambahnya.
Dan setiap sore aku yang menyuapimu lalu mengajakmu berjalan-jalan. Menatap taman dengan bunga-bunga dan kadang-kadang kupu-kupu atau kecapung, menyusuri jalur lambat, serta menanti tergelincirnya matahari lalu rombongan kelelawar yang keluar memenuhi angkasa. Nampak senyummu makin lebar. Gigi-gigimu makin banyak terlihat.
Hari demi hari. Segarnya udara sore, matahari merah yang ranum, kupu-kupu, kecapung, roda-roda kendaraan, deru gas dan bel kencang, dan terutama rombongan kelelawar mengangkasa membuat hatimu makin terbuka.
Senyummu bertambah lebar, makanmu bertambah lahap, dan matamu lebih hidup. Tak lagi lama menerawang.
Hatiku sangat bahagia.
Sayang cutiku habis. Aku hendak kuliah tapi terkurung rasa khawatir yang amat kuat. Aku cemas dan takut.
"Tidak apa-apa 'nak, kuliah adalah tugas utamamu," kata-kata ibumu menguatkan hatiku.
Namun dadaku sesak setiap mengingat akan meninggalkanmu dalam kondisi yang mulai membaik. Hatiku gamang. Apalagi ketika kemarin sore aku mengantarmu jalan-jalan, walau selintas matamu mulai berani menatapku. Mata serupa telaga.
Aku nekat untuk kembali kuliah; pilihan yang akhirnya aku sesali seumur hidup. Aku terpukul.
Apakah kau tak mengerti bahwa aku hanya meninggalkanmu sebentar untuk kemudian kembali lagi…
Aku segera tapi terlambat. Kau terbaring demikian lemah, dengan mata tertutup, dan mulut pucat mengatup beku. Dadaku sesak… Terdengar suara keras menderak.
"Bangsat! Ini pasti ulahnya."
Aku terkejut. Itu suara bapakmu yang baru pertama kali kudengar. Kebekuannya ambrol melihatmu senestapa ini.
Mengenangmu, jiwaku meraung penuh rasa sesal. Aku lemah dan letih. Tubuhku melayang seperti kapas yang dikibas udara. Dunia gelap. Aku terjatuh entah di mana. Semua gulita dan kelam. Muram, sunyi. Hatiku menggigil, aku sangat sepi.
Air mataku kerontang. Gelap dan hampa.
***
Solo, Juli 2007, Han Gagas
Sabtu, 30 Juni 2012
Sabtu, 26 November 2011
Aku hanya ingin bersama kekasihku
Diposting oleh
innda calalo
di
09.33
Gelap. keremangan yang berselimut di dalam matanya seolah hendak menyadari sesuatu. Fara membuka matanya dan menemukan ia sudah ada di dalam kamarnya. Ia bersikeras untuk percaya, bahwa lima belas menit yang lalu ia sangat yakin bahwa ia masih berada di pinggir pantai Kuta bersama Abram. lima belas menit yang lalu ia masih bermain layangan bersama lelaki itu.
"Sumpah demi Tuhan" katanya pada diri sendiri. "bagaimana mungkin aku bisa ada disini?"
ia melihat bufet disamping tempat tidurnya, ada sepotong roti gandum dan segelas susu yang sudah tak lagi hangat. kedua tangannya memegangi perutnya yang tepat sekali sedang kelaparan, lalu iapun meneguk susu itu sampai hampir setengah, merebut roti itu dan memakannya dengan sangat lahap. "Alhamdulilah..." ucapnya dalam hati. kini ia tak lagi kelaparan dan dengan tenaga yang sudah kembali pulih, Fara melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Di ruang tamu yang jaraknya beberapa meter dari kamarnya, ibunya sedang sibuk melayani dua orang tamu yang rasanya tak asing lagi di ingatannya. kedua gadis tersebut memakai almamater kampus. Duduk sopan sambil bercerita dengan pembahasan serius.
"Sungguh, kami sangat ingin membantu Fara, bu." Ujar Sisil mengatakan. Ibu Fara langsung menunduk seperti orang pasrah. "semua pasti akan kembali seperti dulu."
"Bagaimana caranya,nak? ibu sendiri benar-benar sudah tidak tahu cara apa yang harus dilakukan untuk membuat Fara menerima semua ini."
Lalu Jihan ikut menanggapi, "kita semua hampir tidak percaya ini semua terjadi. Peristiwa itu ternyata juga memberikan efek yang sangat ironis."
Dibalik kejauhan sana, Fara mendengar suara isakan tangis ibunya seperti tak berarti apa-apa. Ia lebih memilih untuk pergi keluar dari rumah dan mencari suatu ketenangan serta kepuasan batin.
Abram sudah berjanji padanya untuk menemuinya ditaman, dimana dianataranya ada sebuah kolam ikan indah dengan suara gmercika air pancur yang semuanya dapat menginspirasi pikirannya. Meng-antisipasi kerinduannya pada kekasih yang sangat dicintai, Fara hanya ingin bertemu dengan Abram. agar ia bisa bercerita bersama, tertawa bersama dan merasakan kehadiran cinta yang sangat mendalam antara kedua jiwa yang serasa lazim.
Fara menjatuhkan diri, duduk dipinggir kolam yang warnanya tak lagi sebening sebelumnya. Ia harus mengambil kesempatan ini, dipandanginya sekeliling taman, tak ada orang lain yang berada disitu kecuali ia dan lelaki itu. Abram, yang dengan tampannya berjalan kearahnya. Farapun tersenyum, melihat penampilan Abram kali ini yang begitu menawan dan tentunya dengan aroma tubuh Abram yang tak terlupakan. Dan lelaki itupun duduk disebelahnya, dengan senyum sambutan yang menghibur hati.
"Aku senang kamu sudah ada disini," Sapa Abram pada Fara.
"Maafin aku soal kejadian tadi, aku gak bermaksud meninggalkan kamu di pantai." Sambil merapikan rambut Fara yang berantakan, Abram lagi-lagi tersenyum.
"Tidak apa-apa, aku cuma kasihan sama kamu."
"Kenapa?"tanya Fara sedikit tak suka. Apa yang harus dikasihani? katanya dlm hati.
"Sayang, kamu itu sangat cantik, dan kamu punya masa depan yang sangat cerah tapi kenapa kamu tidak mau menuruti kata-kata ibumu?"
Fara langsung memasang muka masam, nafasnya meng-endus kuat sebagai ungkapan kekesalan."Mama tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. aku hanya ingin bersama kamu, tapi kenapa ia melarangku."
"Aku tahu kamu sangat mencintaiku, Fara. Tapi kamu harus bisa terima bahwa ini semua tidak seperti yang kamu inginkan."
"Abram!" Fara melihat kedua mata Abram sedikit samar, namun tatapannya sanggup mengunci ketekunan yang telah terkunci di dalam hatinya selama ini. "jangan dengarkan kata orang, mereka hanya ingin memisahkan kita. Kita sudah bersumpah kan? bahwa kita tidak akan pernah berpisah walau apapun yang terjadi. bahkan maut sekalipun!!"
Abram sedikit terkejut mendengar pernytaan Fara barusan, ia tak punya cara apa-apa lagi untuk bisa meyakinkan kekasih yang dalam kenyataan pernah ia cintai, bahkan mungkin hingga saat ini.
"Aku mengerti." direngkuhnya Fara kedalam pelukannya, memberikan kedamaian agar gadis itu tidak lagi bersedih. "kamu ingin aku terus ada bersamamu?"
"Sangat! aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sayang."
kemudian Abram melepas pelukannya, menatap wajah Fara yang terlihat sedikit pucat dan berantakan. "baiklah," katanya."sekarang... apa kamu mau menemaniku bermain layang-layang lagi?"
"Tentu!!" Fara mengangguk kuat tanda setuju. Ia melihat Abram telah menyediakan sebuah layangan bercorak warna-warni di tangannya, dengan seuntas benang yang panjang dan kuat Fara dan Abram berhasil menerbangkan layangan itu dengan sangat tinggi. tak ada pepohonan yang menghalangi layangan itu untuk terbang bebas. merekapun tertawa, berlarian dan saling memanjakan diri dengan kebahagiaan yang diarasakan sangat nyata. Fara senang setiap kali Abram menggenggam jemarinya dan membawanya berlari berasam dengan angin. Bersama daun berguguran yang terhembus angin, burung-burung merpati yang seolah berkicau merdu melihat kebahagiaan yang ia rasakan.
Fara tak ingin genggaman itu terlepas, tapi entah kenapa tangan itu berubah menjadi lebih hangat. tak sedingin dan selembut sebelumnya. Disitu, dihadapannya tiba-tiba saja ibunya berdiri dengan air mata. Memegangi bahunya dengan sangat kuat dengan bantuan kedua temannya yang masih mengenakan almamater, mereka yang seharusnya masih duduk di ruang tamu rumah. Bagaimana mereka bisa menemukanya di tempat ini? katanya dalam hati. Kenapa tiba-tiba ada banyak sekali orang disekitarku, dan kenapa mereka menatapku seolah ingin menerkamku, aku ini salah apa?
"Aku sedang bersama Abram dan bermain layang-layang, kenapa kalian datang dan mengganggu kebahagiaanku?" pintanya pada orang-orang itu.
ia ingin memberontak, lari ke pelukan Abram dan pergi dari mereka. Namun, kekuatan orang-orang itu membuatnya tak sanggup berbuat apa-apa selain berteriak sekuat tenaga agar mereka pergi. berteriak sekuat tenaga agar mereka tahu betapa menyedihkannya ia saat air mata mengucur deras, berteriak sekuat tenaga agar ibunya rela melepaskan tangannya yang lemah. tapi kekuatan mereka semakin dan semakin kuat menahannya.
"Maafin mama, Fara. Mama terpaksa melakukan hal seperti ini." ibunyapun menangis.
"Fara cuma mau Abram, ma... kumohon jangan memisahkan kami. Fara mohonnn..."
"Ini yang terbaik buat kamu nak." Fara tak menahu, ada benda tajam yang menusuk lengannya dan seketika semuanya menjadi gelap, "mama sangat menyayangimu, Fara."
"Dimana Abram?! mana layangan cantik itu seharusnya aku ada ditaman, bukan di kamar bau seperti ini!" Begitu ia terbangun, Fara mendapati dirinya berada di tempat asing. tempat tidur ber-sprei putih, kamar yang tak ber-lemari dan tak berjendela. di balik dinding kamar rumah sakit jiwa, ibunya menangis tak rela. Ia tak ingin meninggalkan Fara dalam keadaan seperti itu, namun ini adalah keputusan terberat yang pernah dibuatnya. sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Abram dua bulan yang lalu, Fara menjadi sangat depresi hingga menyebabkan gangguan jiwa. Ibunya sadar jika ia sangatlah kejam, bagaimana anak yang sangat disayanginya harus berada di tempat menyedihkan seperti ini, berperilaku dengan tingkah yang berhalusinasi tinggi, merasa yakin bahwa Abram kekasihnya selalu ada didekatnya.
"sampai kapan kamu seperti ini, nak. cepatlah sembuh agar mama bisa melihatmu ceria kembali."
"Sumpah demi Tuhan" katanya pada diri sendiri. "bagaimana mungkin aku bisa ada disini?"
ia melihat bufet disamping tempat tidurnya, ada sepotong roti gandum dan segelas susu yang sudah tak lagi hangat. kedua tangannya memegangi perutnya yang tepat sekali sedang kelaparan, lalu iapun meneguk susu itu sampai hampir setengah, merebut roti itu dan memakannya dengan sangat lahap. "Alhamdulilah..." ucapnya dalam hati. kini ia tak lagi kelaparan dan dengan tenaga yang sudah kembali pulih, Fara melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Di ruang tamu yang jaraknya beberapa meter dari kamarnya, ibunya sedang sibuk melayani dua orang tamu yang rasanya tak asing lagi di ingatannya. kedua gadis tersebut memakai almamater kampus. Duduk sopan sambil bercerita dengan pembahasan serius.
"Sungguh, kami sangat ingin membantu Fara, bu." Ujar Sisil mengatakan. Ibu Fara langsung menunduk seperti orang pasrah. "semua pasti akan kembali seperti dulu."
"Bagaimana caranya,nak? ibu sendiri benar-benar sudah tidak tahu cara apa yang harus dilakukan untuk membuat Fara menerima semua ini."
Lalu Jihan ikut menanggapi, "kita semua hampir tidak percaya ini semua terjadi. Peristiwa itu ternyata juga memberikan efek yang sangat ironis."
Dibalik kejauhan sana, Fara mendengar suara isakan tangis ibunya seperti tak berarti apa-apa. Ia lebih memilih untuk pergi keluar dari rumah dan mencari suatu ketenangan serta kepuasan batin.
Abram sudah berjanji padanya untuk menemuinya ditaman, dimana dianataranya ada sebuah kolam ikan indah dengan suara gmercika air pancur yang semuanya dapat menginspirasi pikirannya. Meng-antisipasi kerinduannya pada kekasih yang sangat dicintai, Fara hanya ingin bertemu dengan Abram. agar ia bisa bercerita bersama, tertawa bersama dan merasakan kehadiran cinta yang sangat mendalam antara kedua jiwa yang serasa lazim.
Fara menjatuhkan diri, duduk dipinggir kolam yang warnanya tak lagi sebening sebelumnya. Ia harus mengambil kesempatan ini, dipandanginya sekeliling taman, tak ada orang lain yang berada disitu kecuali ia dan lelaki itu. Abram, yang dengan tampannya berjalan kearahnya. Farapun tersenyum, melihat penampilan Abram kali ini yang begitu menawan dan tentunya dengan aroma tubuh Abram yang tak terlupakan. Dan lelaki itupun duduk disebelahnya, dengan senyum sambutan yang menghibur hati.
"Aku senang kamu sudah ada disini," Sapa Abram pada Fara.
"Maafin aku soal kejadian tadi, aku gak bermaksud meninggalkan kamu di pantai." Sambil merapikan rambut Fara yang berantakan, Abram lagi-lagi tersenyum.
"Tidak apa-apa, aku cuma kasihan sama kamu."
"Kenapa?"tanya Fara sedikit tak suka. Apa yang harus dikasihani? katanya dlm hati.
"Sayang, kamu itu sangat cantik, dan kamu punya masa depan yang sangat cerah tapi kenapa kamu tidak mau menuruti kata-kata ibumu?"
Fara langsung memasang muka masam, nafasnya meng-endus kuat sebagai ungkapan kekesalan."Mama tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. aku hanya ingin bersama kamu, tapi kenapa ia melarangku."
"Aku tahu kamu sangat mencintaiku, Fara. Tapi kamu harus bisa terima bahwa ini semua tidak seperti yang kamu inginkan."
"Abram!" Fara melihat kedua mata Abram sedikit samar, namun tatapannya sanggup mengunci ketekunan yang telah terkunci di dalam hatinya selama ini. "jangan dengarkan kata orang, mereka hanya ingin memisahkan kita. Kita sudah bersumpah kan? bahwa kita tidak akan pernah berpisah walau apapun yang terjadi. bahkan maut sekalipun!!"
Abram sedikit terkejut mendengar pernytaan Fara barusan, ia tak punya cara apa-apa lagi untuk bisa meyakinkan kekasih yang dalam kenyataan pernah ia cintai, bahkan mungkin hingga saat ini.
"Aku mengerti." direngkuhnya Fara kedalam pelukannya, memberikan kedamaian agar gadis itu tidak lagi bersedih. "kamu ingin aku terus ada bersamamu?"
"Sangat! aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sayang."
kemudian Abram melepas pelukannya, menatap wajah Fara yang terlihat sedikit pucat dan berantakan. "baiklah," katanya."sekarang... apa kamu mau menemaniku bermain layang-layang lagi?"
"Tentu!!" Fara mengangguk kuat tanda setuju. Ia melihat Abram telah menyediakan sebuah layangan bercorak warna-warni di tangannya, dengan seuntas benang yang panjang dan kuat Fara dan Abram berhasil menerbangkan layangan itu dengan sangat tinggi. tak ada pepohonan yang menghalangi layangan itu untuk terbang bebas. merekapun tertawa, berlarian dan saling memanjakan diri dengan kebahagiaan yang diarasakan sangat nyata. Fara senang setiap kali Abram menggenggam jemarinya dan membawanya berlari berasam dengan angin. Bersama daun berguguran yang terhembus angin, burung-burung merpati yang seolah berkicau merdu melihat kebahagiaan yang ia rasakan.
Fara tak ingin genggaman itu terlepas, tapi entah kenapa tangan itu berubah menjadi lebih hangat. tak sedingin dan selembut sebelumnya. Disitu, dihadapannya tiba-tiba saja ibunya berdiri dengan air mata. Memegangi bahunya dengan sangat kuat dengan bantuan kedua temannya yang masih mengenakan almamater, mereka yang seharusnya masih duduk di ruang tamu rumah. Bagaimana mereka bisa menemukanya di tempat ini? katanya dalam hati. Kenapa tiba-tiba ada banyak sekali orang disekitarku, dan kenapa mereka menatapku seolah ingin menerkamku, aku ini salah apa?
"Aku sedang bersama Abram dan bermain layang-layang, kenapa kalian datang dan mengganggu kebahagiaanku?" pintanya pada orang-orang itu.
ia ingin memberontak, lari ke pelukan Abram dan pergi dari mereka. Namun, kekuatan orang-orang itu membuatnya tak sanggup berbuat apa-apa selain berteriak sekuat tenaga agar mereka pergi. berteriak sekuat tenaga agar mereka tahu betapa menyedihkannya ia saat air mata mengucur deras, berteriak sekuat tenaga agar ibunya rela melepaskan tangannya yang lemah. tapi kekuatan mereka semakin dan semakin kuat menahannya.
"Maafin mama, Fara. Mama terpaksa melakukan hal seperti ini." ibunyapun menangis.
"Fara cuma mau Abram, ma... kumohon jangan memisahkan kami. Fara mohonnn..."
"Ini yang terbaik buat kamu nak." Fara tak menahu, ada benda tajam yang menusuk lengannya dan seketika semuanya menjadi gelap, "mama sangat menyayangimu, Fara."
"Dimana Abram?! mana layangan cantik itu seharusnya aku ada ditaman, bukan di kamar bau seperti ini!" Begitu ia terbangun, Fara mendapati dirinya berada di tempat asing. tempat tidur ber-sprei putih, kamar yang tak ber-lemari dan tak berjendela. di balik dinding kamar rumah sakit jiwa, ibunya menangis tak rela. Ia tak ingin meninggalkan Fara dalam keadaan seperti itu, namun ini adalah keputusan terberat yang pernah dibuatnya. sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Abram dua bulan yang lalu, Fara menjadi sangat depresi hingga menyebabkan gangguan jiwa. Ibunya sadar jika ia sangatlah kejam, bagaimana anak yang sangat disayanginya harus berada di tempat menyedihkan seperti ini, berperilaku dengan tingkah yang berhalusinasi tinggi, merasa yakin bahwa Abram kekasihnya selalu ada didekatnya.
"sampai kapan kamu seperti ini, nak. cepatlah sembuh agar mama bisa melihatmu ceria kembali."
Langganan:
Postingan (Atom)
